Berdamai

Tiba-tiba merasakan sesuatu yang susah untuk didefinisikan. Bahkan barisan huruf yang dirangkai menjadi satu kata pun tidak dapat saya temukan untuk menggambarkannya. Mungkin ini Mala seperti yang tersemat dalam salah satu tulisan milik Goenawan Muhammad. Sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya, susah terlukiskan. Mungkin jalan satu-satunya adalah  berdamai antara logika dan nurani. Berdamai, titik. Mengutip kata-kata Ayu Utami dalam salah satu Magnum Opus nya yang berjudul Lalita. “Manusia tidak bisa mengampuni, yang ada hanya harus berdamai dengan sisi-sisi gelapnya”. Nah ini dia perkara yang cukup sulit dilakukan. Butuh kelapangan jiwa yang luar biasa untuk bisa berdamai dengan sisi-sisi gelap diri sendiri, terlebih lagi sisi gelap milik homo sapiens lainnya. Karena setiap kita memiliki bayang-bayang. Bukan musuh, melainkan pasangan yang berkebalikan. Sudahkah kita berdamai dengan gelap dan bayang-bayang? Jika sudah, selamat Anda sudah layak untuk disebut sebagai manusia. Jika belum?Kita semua pasti sudah tahu jawabannya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s