Monthly Archives: January 2013

Berdamai

Tiba-tiba merasakan sesuatu yang susah untuk didefinisikan. Bahkan barisan huruf yang dirangkai menjadi satu kata pun tidak dapat saya temukan untuk menggambarkannya. Mungkin ini Mala seperti yang tersemat dalam salah satu tulisan milik Goenawan Muhammad. Sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya, susah terlukiskan. Mungkin jalan satu-satunya adalah  berdamai antara logika dan nurani. Berdamai, titik. Mengutip kata-kata Ayu Utami dalam salah satu Magnum Opus nya yang berjudul Lalita. “Manusia tidak bisa mengampuni, yang ada hanya harus berdamai dengan sisi-sisi gelapnya”. Nah ini dia perkara yang cukup sulit dilakukan. Butuh kelapangan jiwa yang luar biasa untuk bisa berdamai dengan sisi-sisi gelap diri sendiri, terlebih lagi sisi gelap milik homo sapiens lainnya. Karena setiap kita memiliki bayang-bayang. Bukan musuh, melainkan pasangan yang berkebalikan. Sudahkah kita berdamai dengan gelap dan bayang-bayang? Jika sudah, selamat Anda sudah layak untuk disebut sebagai manusia. Jika belum?Kita semua pasti sudah tahu jawabannya 😀

Advertisements
Quote

Terlalu sering …

Terlalu sering memandang ke atas, menunduklah sesekali agar tidak silau dengan etalase dunia

Quote

“Tiap masa puny…

“Tiap masa punya cerita”

Image

Pahlawan bertopeng

Pahlawan bertopeng

Image

Meditasi bareng Gita :D

Meditasi bareng Gita :D

Image

500 days of Sumur

500 days of Sumur Part 1

Setelah sekian lama hilang dari peredaran, akhirnya malam ini “nyampah” lagi di sini. Kali ini saya akan menumpahkan kerinduan saya masa-masa KKN. Terlalu banyak cerita di dalamnya, Saya seperti menemukan satu keluarga baru. Enam kepala disatukan dalam satu pondokan. Awalnya butuh adaptasi yang ekstra karena entah bawaan dari kluster sains yang terlalu serius dan bertolak dengan kluster sosial yang menurut saya lebih fleksibel. Hari-hari awal terasa lama dan membosankan. Dan benar kata pepatah, waktu adalah relativitas yang paling tinggi. Lama-kelamaan kami pun mulai mencair. UNO, ya satu set kartu permainan yang menyatukan kami. Hampir setiap malam kami habiskan dengan main UNO. Tak jarang kami tidak tidur hingga sahur tiba. Benar-benar kecanduan UNO!

Dan musuh abadi saya main UNO ya siapa lagi mas bagus a.k.a Gondes. Ini orang seneng banget “membully” saya waktu main UNO, Dia selalu duduk di sebelah saya dan berharap mendapat giliran untuk membantai saya main UNO, Persaingan kami ibarat Kurawa sewaktu berjudi melawan Pandawa. Terkadang dongkol juga ketika dia berhasil membantai saya, dan sebaliknya.

Mas Bagus ini merupakan ketua suku di Sumur. Dia yang sering ngambek-ngambek nggak jelas saat kita “nakal”. Tapi sebenarnya dia yah baik lah untuk seorang ketua. Dia cukup tanggung jawab, nggak terlalu serius, dan se-aliran sama saya kalau ngomongin masalah musik dan hal yang berbau maskulin lainnya, Dan Dia juga cukup sabar ketika saya minta ini itu, ketika kaki saya terluka dia cukup baik membantu mengobati luka saya. Ah saya seperti menemukan sesosok kakak dalam dirinya.  Saya masih ingat ucapan dia “kowe kui mung casing e wae sing wedok, jiwamu lanang”. Ah benar juga, punya kakak laki-laki memang ikut berpengaruh. Saya ingat dia berkata demikian setelah saya “memaksa” untuk ikut survey pemetaan mata air yang medannya lumayan berat bagi wanita. Berbukit-bukit dan untuk melalui nya harus jalan kaki. Dan saya menikmati itu sambil memegang amunisi sebuah DSLR tua warisan kakak saya. Ah kamu terlalu main gender mas, ucap saya dalam hati, Wanita juga bisa kuat, jadi ibu aja bisa apalagi cuma naik bukit hhaha. (To be Continued)